Rabu, 11 November 2015

BERNILAI 300,000 SHOLAWAT HANYA DENGAN 3 KALI MEMBACA NYA



Diriwayatkan bahwa Sulthon Mahmud Al Ghornawiy, Beliau di awal pemerintahannya duduk setelah sholat shubuh sibuk membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw sebanyak 300.000 kali sampai siang hari sampai orang-orang (rakyatnya) duduk di pintu, menunggu keluarnya (Sulthon Mahmud) untuk menyelesaikan hajatnya setelah keadaan ini berlangsung lama, maka beliau melihat Nabi Muhammad saw di dalam tidurnya Nabi mengatakan kepadanya, “Apa ini penjagaan waktu sehingga rakyatmu telah menunggu keluarnya kamu”. Maka Sulthon menjawab duduk menghabiskan waktu lama karena saya bersholawat kepadamu dalam jumlah tertentu (300.000 kali) dan saya tidak berdiri sebelum selesai. Maka Nabi Muhammad saw mengatakan kepadanya, “Ini menyusahkan orang lemah (rakyatmu) dan yang punya hajat, akan tetapi saya (Nabi) akan mengajarkan kepadamu sholawat yang ringkas, yang mana apabila kamu membacanya satu kali sebanding dengan 100.000 kali, jadi kamu tinggal membaca 3 kali saja sudah sebanding dengan 300.000 kali. Setelah itu kamu keluar menemui rakyatmu untuk menyelesaikan urusan-urusan mereka sehingga kamu mendapat pahala sholawat 300.000 kali dan mendapat pahala memberi manfaat kepada orang muslimin. Maka dia pun (Sulthon Mahmud) mempelajari sholawat itu dari Nabi Muhammad saw lalu ia mengamalkannya secara rutin. Setelah itu ia melihat Nabi Muhammad saw lagi yang kedua kalinya dan Nabi Muhammad saw mengatakan kepadanya, “Amalan apa yang kamu amalkan sehingga kamu melelahkan malaikat di dalam mencatat pahala amalanmu”. Maka beliau menjawab, saya tidak mengamalkan sesuatu kecuali sholawat yang engkau ajarkan kepadaku.
بسم الله الرحمن الرحيم
وروى أن السلطان محمود الغرنوى كان فى أول عمره وأمره يقعدبعد صلاة الفجر يشتغل بالصلاة على النبى صلى الله عليه و سلم ويصلى ثلاثمائة الف صلاة حتى يرتفع النهار ويقعد الناس على بابه ينتظرون خروجه ويشق عليهم الإنتظار القضاء الحاجات وفصل الخصومات ونظام مصالح العباد فلمّا كثر  ذلك منه رأى النبى صلى الله عليه وسلم فى المنام يقول له  ما هذا التطويل الذى تطوله على الناس يضجر الضعفاء وذووالحاجات من القعود على بابك الإتظار فقال إنما أقعدلأنى أصلى عليك صلاة معاومة ولا أقوم حتى أفرغ منها فقال إن هذا  يشقّ على الضعفاء وأول الحاجات ولكن أعلمك صلاة مختصرة كلّ واحدة منها بمائة ألف تقرؤها ثلاث مرات فتلك ثلاثمائة ألف ثم تخرج لمصالح المسلمين فيحصل أجر تلك الصلوات وأجر نفع المسلمين  والمساعدة فى قضاء حوابُحهم فتعلمها وواظب عليها مدّة  ثم رأى النبى صلى الله عليه وسلم فى المنام وهو يقول له ماذا فعلت حتى أتعبت الملائكة فى كتابة ثوابك قال ما عملت شيئا إلا صلاة التى علمتنا إياها وهى هذا:

Berikut sholawat nya :

بسم الله الرحمن الرحيم
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ رَحْمَةِ اللهِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ فَضْلِ اللهِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ خَلْقِ اللهِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ مَا فِي عِلْمِ اللهِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ كَلِمَاتِ اللهِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ كَرَمِ اللهِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ حُرُوفِ كَلَامِ اللهِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ قِطْرِ الْأَمْطَارِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ وَرَقِ الْأَشْجَارِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ رَمْلِ الْقِفَارِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ الحُبُوْبِ وَ الثِّمَارِ
اللهمّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ مَا أَظْلَمَ عَلَيْهِ اللَّيْلُ وَ أَشْرَقَ عَلَيْهِ النَّهَارُ
اللهمّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ
اللهمّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ
اللهمّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ أَنْفَاسِ الْخَلَائِقِ
اللهمّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ نُجُوْمِ السَّمَاوَاتِ
اللهمّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ بِعدَدِ كُلِّ شَيْئٍ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَصَلَوَاتُ اللهِ تَعَالَى وَ مَلَائِكَتِهِ وَ أَنْبِيَائِهِ وَ رَسُلِهِ وَ جَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَ اِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ وَ قَائِدِ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِيْنَ وَ شَفِيْعِ  الْمُذْنِبِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ  وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَّتِهِ وَ اَهْلِ بَيْتِهِ وَ الْأَئِمَّةِ الْمَاضِيْنَ وَ الْمَشَا يِخِ الْمُتَقَدِّمِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّلِحِيْنَ وَ اَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ مِنْ اَهْلِ السَّمَاوَاتِ وَ اَهْلِ الْأَرْضِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ يَا اَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

Sumber: Kitab Al-Qirtos fi Manaqib Al-Attas

Sabtu, 07 November 2015

MENGAPA SAYYIDINA UMAR BERTAWASSUL PADA SAYYIDINA ABBAS? M.A.V~313

MENGAPA SAYYIDINA UMAR BERTAWASSUL PADA SAYYIDINA ABBAS?
Oleh Al-‘Alim Al-Faqih Al-Muhaddits, Syaikh Muhammad Zahid Al-Kautsari
M.A.V~313
 
 
Al-Bukhari dalam kitab istisqa`. Ia menyatakan dalam kitab shahihnya; Dari Anas, bahwa ketika orang-orang tertimpa kemarau, Umar bin Khaththab meminta hujan dengan perantara Abbas bin Abdul Muththallib, lalu berkata, “Ya Allah! Dulu kami bertawasul kepada-Mu dengan perantara nabi kami, lalu Engkau memberi kami hujan, dan (saat ini) kami bertawasul kepada-Mu dengan paman nabi kami, maka berilah kami hujan.’ Anas berkata, ‘Mereka diberi hujan’.”

Klaim adanya mudhaf yang dibuang (yaitu dengan doa paman nabi kami)  adalah klaim semata tanpa hujah, seperti halnya anggapan beralihnya Umar kepada Abbas –karena Nabi saw sudah meninggal dunia- merupakan kebohongan terhadap Umar yang sama sekali tidak pernah terlintas di benak.

 Bahkan, hadits ini membolehkan bertawasul kepada orang yang derajatnya lebih rendah meski adanya orang yang derajatnya lebih tinggi. Bahkan bertawasul dengan kata-kata, “Dengan paman nabi kami,” adalah tawasul dengan kekerabatan Abbas dengan Nabi SAW dan dengan kedudukan Abbas di mata beliau. Dengan demikian, bertawasul dengan Abbas sama seperti bertawasul dengan Nabi SAW juga.

Kata, “Dulu, kami,” tidak khusus untuk masa hidup Nabi saw saja, tapi mencakup juga masa sepeninggal beliau hingga tahun terjadinya paceklik. Pembatasan dalam hal ini pembatasan tanpa pembatas.

Ibnu Umar menirukan bait-bait syair milik Abu Thalib, “Si putih, awan dimintai hujan dengan wasilah wajahnya,” seperti disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari. Bahkan diriwayatkan, Rasulullah saw meminta bait syair ini disenandungkan, seperti disebutkan dalam Fathul Bâry.

Disebutkan dalam bait syair Hassan;
 lalu awan menurunkan hujan dengan perantara wajah Abbas, seperti di sebutkan dalam Al-Isti'ab.

Catatan:
Tawasul adalah masyru' (dianjurkan) menurut keyakinan Ahlusunnah, mengingat banyaknya dalil maka tidak lah pantas seorang menyamakan tawasul dengan syirik. 
Metode wahabi salafi dalam berdiskusi bukan lah metode yg populer dikalangan para ulama. Menghakimi men-vonis lalu dicarikan dalil utk melegalkan fatwa mereka dan tidak mau menerima pendapat orang lain. 

Berbeda dengan metode  para ulama Ahlusunnah yaitu membawakan dalil,  menyertakan pendapat para pakar dibidangnya, dari ilmu tafsir dan hadis lalu pendapat fuqaha baru lah mengambil kesimpulan. Itu pun mereka selalu mau menerima perbedaan orang lain.‎

OPTIMIS MEMBELA AQIDAH TANPA DANA (M.A.V~313)

Mayoritas ulama Aswaja sepakat tentang kesesatan syi'ah, mengingat sekte ini sudah lama menyebarkan pahamnya, sehingga kita dapat mengetahui dari buku rujukan mereka seperti al-Kafi dll,  betapa mereka mengkafirkan dan membenci para sahabat yang sangat dimuliakan oleh mayoritas muslimin.

Meragukan keontetikan alquran, menuduh istri-istri nabi dengan keji, bahkan mengkafirkan seluruh Ahlusunnah. Begitu aqidah mereka dapat kita baca dari kitab2 referensi syi'ah juga  diperkuat oleh ceramah imam-imam mereka yang memenuhi sosmed. 

Beberapa tahun yang lalu aswaja masih berdebat tentang kesesatan syi'ah, karena para ulama ada yang tegas dan lunak mengambil kesimpulan tentang syi'ah, tergantung banyaknya informasi yg didapat tentang aqidah syi'ah.

Nah seperti itu pula aswaja akan memberi kesimpulan pada wahabi salafi,  yang mana usia mereka lebih belia dibanding syi'ah. Simpang siur yang ada insya-Allah tidak akan berlangsung lama, mengingat wahabi salafi lebih vulgar menerangkan aqidahnya,  ditambah banyaknya da'i-da'i muda yang sangat bersemangat mengkafirkan aswaja, bisa kita saksikan di media masa milik neo khawarij, seperti TV/RADIO RODJA, YUFID, FAJRI dll. 

Terkadang kita merasa heran betapa kelompok minoritas ini bebas mencaci, mensyirikkan dan bahkan mengkafirkan para ulama aswaja secara terang-terangan. Dan kita masih saja memperdebatkan kesesatan kelompok ini, masih menggolongkan mereka dalam aswaja.

Dengan berjalannya waktu, semakin banyak kita membaca dan mendapat informasi tentang wahabi salafi, betapa mereka memposisikan aswaja asy'ari shufi sebagai aliran sesat yang harus ditumpas sampai keakar2nya, maka kita akan cepat memahami bahwa dimata wahabi salafi tidak ada beda antara syi'ah dan aswaja. 
 Begitu pun dimata syiah aswaja dan wahabi salafi adalah sesat karena sama-sama menjadikan sahabat sebagai panutannya.

Berkoalisi dengan syiah untuk membendung wahabi atau berkoalisi dengan wahabi salafi untuk membendung syiah adalah kerugian yang nyata untuk aswaja. 
Aswaja harus selalu optimis bahwa perjuangan ini tidak semata2 akan dimenangkan oleh banyaknya dukungan dana. Buang jauh cara berpikir materialis yang selalu mengaitkan kesuksesan perjuangan hanya tergantung kekuatan fulus.

Walau pun wahabi punya Saudi dan syi'ah punya Iran serta JiL dan JiN punya donatur barat, besarkan hati kita bahwa apa yang kita perjuangkan ini adalah hak.
 Allah, Rasulullah, Ahlulbait, sahabat dan salaf akan meridhoi perjuangan tanpa pamrih materi ini insya-Allah.

PESAN NABI SAW UNTUK PENGANTIN BARU DAN LAMA (M.A.V~313)

Rasulullah SAW menyampaikan wasiat terkait wanita hingga berulang-ulang dan menganjurkan agar kekeliruan-kekeliruan wanita dimaafkan, karena kelemahan adalah hal yang fundamental pada dirinya. Siapa yang menghendaki kesempurnaan dari wanita, maka sesungguhnya dia menuntut hal yang mustahil, mengarungi alam khayalan, dan menyia-nyiakan tenaga dan pikirannya, dan mengarahkan kehidupannya dalam kesulitan. 

Hendaknya berlaku bijak, elegan, dan pengertian terhadap berbagai kekeliruan selama tidak melanggar ketentuannya. Hendaknya penyimpangannya diabaikan dan kekhilafannya ditolerir, lantas sikapilah dengan bijak serta nasihat yang baik. 

Hendaknya dia dibimbing sesuai dengan tuntutan keadilan dan kebajikan tanpa melanggar suatu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Suami juga harus membentengi diri dalam menyertainya di setiap keadaan dengan benteng kesabaran dan kelapangan dada.

Rasulullah SAW bersabda, "Ketahuilah, tunaikan wasiat kebaikan kepada kaum wanita. Sesungguhnya mereka adalah tawanan pada kalian. Kalian tidak berwenang terhadap mereka sedikit pun selain itu kecuali bila mereka melakukan perbuatan yang keji dengan nyata. Jika mereka melakukan, maka lakukanlah pisah ranjang dengan mereka, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak mencederai. 

Jika mereka patuh kepada kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kalian memiliki hak yang harus mereka tunaikan, dan istri-istri kalian pun memiliki hak yang harus kalian tunaikan. Adapun hak kalian yang harus ditunaikan oleh istri-istri kalian adalah; mereka tidak boleh memasukkan ke dalam ruang tidur kalian orang yang tidak kalian sukai, dan mereka tidak boleh mengizinkan orang yang tidak kalian sukai berada di dalam rumah kalian. 

Ketahuilah, hak mereka yang harus kalian tunaikan adalah kalian harus memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya terkait pakaian dan makanan mereka."
HR Tirmidzi.

BETAPA BESAR KASIH SAYANG ALLAH DAN RASULULLAH? (M.A.V~313)

Dari Amir ar-Rami RA berkata,"
Ketika kami berada di sisi beliau, tiba-tiba datang kepada beliau seorang laki-laki dengan membawa pakaian dan di tangannya terdapat sesuatu yang dia balut. Dia berkata; wahai Rasulullah, ketika aku melihatmu maka aku segera menemuimu.

 Aku melewati pohon yang rimbun, lalu aku mendengar ada suara anak-anak burung di dalamnya. Aku pun mengambil anak-anak burung itu dan meletakkannya di pakaianku. Lantas datang induknya dan berputar-putar di atas kepalaku. Aku segera membuka anak-anak burung itu baginya. Induk itu pun hingga dan bersama mereka. Lalu aku membungkus semuanya dengan pakaianku. Sekarang burung-burung itu bersamaku. Beliau bersabda, "Letakkan mereka hingga terbebas darimu." Aku pun meletakkan mereka, namun induk mereka tidak mau pergi dan hanya menyertai anak-anaknya.

 Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat-sahabat beliau, "Apakah kalian kagum terhadap kasih sayang induk burung itu kepada anak-anaknya?" Mereka menjawab; ya, wahai Rasulullah SAW! Beliau bersabda, "Demi yang mengutusku dengan kebenaran, Allah benar-benar lebih menyayangi hamba-hamba-Nya dari pada induk burung terhadap anak-anaknya. 

Bawa kembali mereka hingga kamu meletakkan lagi ke tempat semula saat kamu mengambil mereka dengan induk mereka bersama mereka." Orang itu pun mengembalikan mereka ke tempat semula.

Catatan:
Segala perintah dan larangan dalam agama adalah bentuk kasih sayang Allah dan Rasulullah pada kita semua,  memilah-milah hukum Allah adalah kebodohon seorang karena minimnya iman terhadap perintah agama, apa pun alasannya.
PESAN NABI SAW UNTUK PENGANTIN BARU DAN LAMA

KLASIFIKASI TAUHID CIKAL BAKAL TAKFIRI !! YUK PERIKSA BUKU AQIDAH ANAK-ANAK KITA. (M.A.V ~313)

Pembagian tauhid menjadi tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan asma` wa shifat tidak dikenal oleh siapapun sebelum Ibnu Taimiyah, Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan orang yang masuk islam, “Ada dua tauhid, kau tidak sah sebagai muslim hingga mengakui tauhid uluhiyah.” Rasulullah SAW juga tidak mengisyaratkan hal seperti ini meski dengan satu kata pun. Tidak juga dinukil dari seorang salaf pun, tidak juga diisyaratkan oleh seorang imam pun yang menjadi panutan hingga Ibnu Taimiyah muncul di abad VII Hijriyah yang menegaskan klasifikasi tauhid tersebut.

Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam Minhaj As-Sunnah seraya membahas mayoritas kaum muslimin dan ulama ilmu kalam seperti kalangan pengikut Asy’ari dan lainnya;
Mereka menyimpangkan tauhid dari posisi semestinya seperti tauhid uluhiyah dan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT. Mereka hanya mengenal tauhid rububiyah saja yang merupakan pengakuan akan Allah SWT sebagai Pencipta dan Rabb segala sesuatu.

Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan dalam Kasyf Asy-Syubuhat, Muhammad SAW rasul terakhir, ia menghancurkan patung-patung orang shalih, diutus Allah SWT untuk kaum agar beribadah, menunaikan haji, bersedekah dan banyak mengingat Allah SWT, namun mereka menjadikan sebagian makhluk sebagai perantara antara mereka dengan Allah SWT dengan menyatakan, “Kami ingin dekat dengan Allah SWT melalui perantara-perantara itu, kami menginginkan syafaat mereka di sisi-Nya,” seperti malaikat, Isa, Maryam dan orang-orang shalih lainnya.

Tanggapan kami;
Mungkinkah Rasulullah SAW diam terhadap masalah besar seperti ini? Seperti itu juga para imam hingga abad VII Hijriyah? Ataukah mereka yang berada di abad tersebut bukan termasuk golongan ahlussunnah wal jamaah? Ahlussunnah adalah mereka yang mengikuti klasifikasi tauhid di atas?!

Klasifikasi tersebut adalah cara golongan wahabi salafi untuk melegalkan pengkafirkan terhadap semua muslimin.
Cobalah periksa buku pelajaran aqidah anak-anak kita, jika mereka belajar tauhid bid'ah-nya Ibnu Taimiyah dan Muh bin AbdudulWahhab dgn membagi tauhid menjadi rububiyah dan uluhiyah maka bersiaplah mempunyai anak yang ekstrim tidak toleransi, dan mudah menyalahkan serta mengkafirkan muslimin.

Senin, 02 November 2015

PECI HITAM SERBAN DAN IMAMAH DAN ANEKA PERNIK SERBA HITAM ORANG NERAKA MENURUT AJARAN DAN KITAB PARA IMAM SYI'AH PENCIPTA HADIST..!!!!

 ADA SEBUAH PRTANYAAAN MENGGELITIK DI BENAK KITA BILA DIKATAKAN PECI HITAM, SERBAN & IMAMAH DAN ANEKA PERNIK PAKAIAN SERBA HITAM  ITU PAKAIAN ORANG NERAKA MENURUT AJARAN DAN KITAB PARA IMAM SYI'AH 
PENCIPTA HADIST..!!!!

LALU MEREKA YANG SAAT INI MENGGANDRUNGI 
PAKAIAN SERBA HITAM ITU  IKUT SIAPA ?!!!!

( M.A.V-313 )



Dalam Al-Kâfi, Al-Kulaini meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad secara marfu’ dari Abu Abdullah, ia berkata, “Warna hitam terlarang digunakan kecuali untuk tiga benda; sepatu, surban dan pakaian.”

Juga diriwayatkan dari Abu Abdullah secara marfu’ dalam kitab berjudul Az-Ziyy dari Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, beliau melarang warna hitam kecuali untuk tiga benda; sepatu, pakaian, dan surban.

Al-Hurr Al-‘Amiliki dalam Al-Wasâ`il meriwayatkan dari Ash-Shadduq dari Muhammad bin Sulaiman secara mursal, dari Abu Abdullah, ia berkata, “Aku bertanya padanya, ‘Bolehkah saya shalat mengenakan peci hitam?’ ia menjawab, ‘Jangan shalat mengenakan peci hitam, karena itu pakaian penghuni neraka’.”

Disebutkan dalam ‘Uyun Al-Akhbâr berdasarkan penjelasan dalam Al-Hadâ`iq An-Nadhirah, setelah menukil riwayat dengan sanad lain dari Ali bin Abi Thalib ra. dari Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, dinukil dari Mushannaf, bahwa pakaian musuh-musuh Allah SWT adalah pakaian hitam, makanan musuh-musuh Allah SWT adalah anggur kering, minuman yang memabukkan, buah Tin, ikan yang berenang di air dan ikan yang muncul di permukaan air, juga ikan dan hewan lain yang tidak diperjualbelikan, Demikian dinukil secara ringkas.

Setelah disebutkan banyak sekali riwayat yang menyebut para imam mereka mencela pakaian hitam karena itu adalah pakaian musuh-musuh Syi’ah, lantas kenapa Syi’ah sendiri mengenakan dan mengagungkan pakaian hitam, bahkan mereka anggap sebagai baju kebesaran?!

http://images.tempo.co/?id=40220&width=475