Selasa, 08 Desember 2015

SIAPAKAH YANG BERSEDIH DI BULAN RABI'UL AWWAL? (M.A.V~313)


انَّ ابليس رنَّ اربع رنَّات: حين لُعِنَ وحين اهبط وحين وُلِدَ رسول اللّٰه صلى الله عليه وسلم وحين انزلت الفاتحةُ
البداية والنهاية باب فيما وقع من الايات ليلة مولده عليه الصلاة و السلام    .




Imam Al-Hafidh Ibnu Katsir Berkata Dalam Kitab Al-Bidayah Wa An-Nihayah Bab Malam Kelahiran Rasulullah SAW, " Bahwa Iblis Menangis Histeris Empat Kali, Ketika Dilaknat, Ketika Diusir Dari Surga, Ketika Dilahirkan Rasulullah SAW, Dan Ketika Diturunkan Surat Al-Fatihah

Berbahagialah Alam Semesta Menyambut Kelahiran Rasulullah Sang Pembawa Kabar Kembira, Penebar Rahmat, Pemersatu Umat. Rasa Bahagia Ini Adalah Sesuatu Yang Sangat Manusiawi Ketika Seorang Mengingat Kenikmatan Yang Allah Berikan Pada Seorang Muslim

Namun Dua Kelompok Jahat Bersedih, Pertama Adalah Iblis Dan Konco-Konconya, Karena Mereka Tahu Bahwa Kelahiran Rasulullah SAW Akan Membawa Keberkahan Dan Petunjuk Pada Umat Manusia, Secara Otomatis Akan Menghalangi Misi Jahat Iblis
 
Begitu Juga Yahudi Mereka Galau Kronis Ketika Mengetahui Kelahiran Rasulullah SAW, Seperti Yang Telah Allah Kabarkan Didalam Al-Quran Surat Al-Baqarah

Galau, Sedih, Murung, Hilang Rasa Bahagia Dengan Datangnya Bulan Kelahiran Baginda Rasulullah SAW, Bulan Rabi'ul Awwal, Itu Bukan Prestasi Yang Membanggakan, Karena Kita Tidak Bisa Ikut Serta Dalam Kebahagian Mayoritas Muslimin, Bahkan Lebih Mirip Dengan Dua Makhluq Yang Bersedih Dengan Kelahiran Rasulullah SAW

Bagi Yang Telah Berbahagia Dengan Kelahiran Rasulullah Hendaknya Meningkatkan Peneladanan Pada Beliau Secara Maksimal, Sehingga Kita Pun Dapat Membahagiakan Rasulullah SAW Dengan Menjalankan Syariatnya, Dan Menjauhi Larangannya

Ya Allah Tanamlah Rasa Cinta Pada Sayyidina Muhammad Di Hati Kami Dan Anak Kami Serta Orang-Orang Yang Mencintai Kami, Berkat Kemuliaan Nabi-Mu Dan Kekasih-Mu Muhammad SAW


اللهم صل وسلم وبارك وكرم وعظم وترحم وتحنن على سيدنا ومولانا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين





 

Sabtu, 05 Desember 2015

BERBAGI TUGAS MENJAGA KESUCIAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH ( M.A.V~313 )

Jika para pejuang perusak aqidah Ahlusunnah bekerja begitu serius, seperti WAHABI, SYI'AH dan JIL seharusnya kita lebih serius membela kebenaran ini.

Coba perhatikan cara kerja wahabi dengan didukung dana yang besar, mereka bisa banyak berbuat mencetak ustadz-ustadz muda yang pandai berdalil, walau materi yang dibawa tidak akan lebih dari bid'ah, syirik, takfir. Namun cara ini cukup mengelabui awam yang haus akan dalil merasa terpuaskan dengan doktrin dan dalil yang sebenarnya menurut ahli ilmu sangat tidak nyambung.

Cara Kedua adalah merubah dan mengoreksi kitab para ulama, lalu disesuaikan dengan selera salafi, seperti kitab tafsir ash-Shawi, Riyadhushsholihin, al-Adzkar, al-Bidayah wa an-Nihayah dan 

lain - lain.

Pengkhianatan dalam menukil ilmu ala wahabi salafi tidak boleh kita anggap remeh, karena untuk beberapa tahun kedepan mungkin mereka lebih PEDE ketika banyak kitab ulama Aswaja yang diterbitkan oleh banyak penerbit wahabi yang telah dimodifikasi, akan lebih dominan dari pada kitab aslinya. Salafi wahabi tidak merasa berdosa ketika merubah judul, bab dan isi kitab dengan dalih menyelamatkan TAUHID.

Hal ini akan lebih mempersulit anak-anak kita dalam mencari kebenaran. Sudah saatnya kita mengantisipasi dengan mengumpulkan kitab-kitab asli bersekala nasional atau internasional demi keselamatan aqidah dari tangan-tangan kotor.

Cara Ketiga yang dilakukan wahabi salafi adalah membuat cerita bohong, bahwa para imam yang tidak sesuai dengan mereka pada akhir umurnya kembali kejalan yang benar, jalan salaf salih ala wahabi, yang dahulu menghalalkan tawasul menjadi mengaharamkan, yang merayakan maulid menjadi membid'ahkan dan seterusnya.


Yang mereka anggap taubat kejalan mereka seperti Imam Abul Hasan Asy'ari dan Imam Nawawi dan lain - lain.

Memang kelebihan dakwah wahabi ini adalah mendakwahi orang yang masih hidup dan yang sudah mati.

Cara Keempat adalah mereka pakai nama para Imam Aswaja untuk nama yayasan, sekolah dan penerbit untuk menipu kalangan awam, nama yang sering dicatut adalah Imam Syafi'i karena mayoritas umat Islam Indonesia bermadzhab Syafi'i.

Ayo bela aqidah kita, minimal kita tidak menambah berat perjuangan yang sudah ada, mari tunjukkan :


1. tunjukkan majelis aswaja bukan majlis badut berisi pelawak yang berbicara mesum dan cabul.

2. bukan juga majelis yang dipenuhi asap rokok sambil mendengar shalawat.

3. bukan majlis para pendongeng membawa hadits palsu.

4. bukan majlis dukung mendukung partai yang akhirnya merugikan umat Islam.

Dengan segala pelanggaran diatas, kita turut memberi umpan pagi para perusak aqidah Ahlusunnah untuk menyerang rumah kita sendiri.

Alangkah indah majlis-majlis Aswaja dipenuhi dengan ilmu dan adab, sebagaimana para pendahulu kita.


Insya-Allah dengan mencontoh salaf kita akan diberi kejayaan seperti yang telah Allah berikan pada mereka.

Minggu, 29 November 2015

PARA IMAM ASWAJA ASY'ARI DAN JASANYA TERHADAP UMAT ISLAM ( M.A.V~313 )

Al-Hafizh Ibnu Hibban Al-Basti (meninggal tahun 354 H.), pemilik kitab Ash-Shahih, Ats-Tsiqat, dan lainnya. Ia adalah seorang imam yang kuat, teladan, imam di masanya, dan terdepan di zamannya.

• Al-Imam Al-Hafizh Abu Hasan Ad-Daruquthni (meninggal tahun 385 H.), pemilik kitab As-Sunan, imam di masanya, ia tidak melihat seorang pun sepertinya, kisahnya bersama imam Al-Baqilani sudah cukup menegaskan bahwa ia mengikuti madzhab Asy’ari. (Baca; Tabyin Kadzibil Muftari, hal: 255, As-Siyar, XVII/558 di dalam biografi Al-Hafizh Abu Dzar Al-Harawi, Tadzkiratul Huffazh, III/1104).

• Al-Hafizh Hakim An-Naisaburi (meninggal tahun 405 H.), pemilik kitab Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, imam ahli hadits di masanya, ia terlalu terkenal untuk diperkenalkan, ulama menyepakati bahwa ia termasuk salah satu imam paling berilmu yang dengan mereka Allah menjaga agama, Al-Hafizh Ibnu Asakir menyebutnya dalam tingkatan kedua, artinya ia termasuk pengikut dari murid-murid Imam Al-Asy’ari (Tabyin Kadzibil Muftari, hal: 227).

• Al-Hafizh Abu Nu’aim Al-Ashbahani (meninggal tahun 430 H.), pemilik kitab Hulyatul Awliya`, termasuk tingkatan kedua di antara para pengikut Asy’ari, dengan kata lain ia termasuk dalam tingkatan imam Al-Baqilani, Abu Ishaq Al-Isfirayini, Hakim, dan Ibnu Faurak. Semoga Allah merahmati mereka semua.( Tabyin Kadzibil Muftari, hal: 246, Ath-Thabaqat Al-Kubra, Tajuddin As-Subki, III/370).

• Al-Imam Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi (meninggal tahun 458 H.), memiliki sejumlah karya tulis yang reputasinya menyebar ke berbagai penjuru dunia, ia juga memiliki buku-buku yang diterima kalangan pendukung maupun penentang.

• Al-Imam Al-Hafizh Khatib Al-Baghdadi (meninggal tahun 463 H.), disebut Al-Hafizh Ibnu Asakir di urutan pertama tingkatan keempat (Tabyin Kadzibil Muftari, hal: 268).

• Imam Haramain Al-Juwaini (meninggal tahun 478 H.), pemilik Nihayatul Mathlab fil Fiqh Asy-Syafi'i dan Al-Waraqat wal Burhan fi Ushulil Fiqh.

• Hujjatul Islam Al-Ghazali (meninggal tahun 505 H.), pemilik Al-Ihya` wal Wasith fil Fiqh.

• Al-Imam Al-Mufassir, Al-Hafizh Abu Muhammad Al-Baghawi (meninggal tahun 516 H.), sosok yang menghidupkan sunnah, pemilik kitab Syarhus Sunnah, dan kitab tafsirnya penuh dengan penjelasan yang menunjukkan akidah ahlussunnah, juga penuh dengan penakwilan sunni untuk nash-nash mutasyabih.

• Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Asakir (meninggal tahun 571 H.), pemilik kitab Tarikh Dimasyq yang menyebutkan peristiwa apa saja.

• Syaikhul Islam Al-Imam Al-Hafizh Abu Amr bin Shalah (meninggal tahun 643 H.), orang pertama yang memimpin para syaikh Darul Hadits Al-Asyrafiyyah yang sebelumnya hanya dipimpin Asy’ari.

• Al-Imam Izzuddin bin Abdussalam (meninggal tahun 660 H.), sultan ulama, penjual para amir, pemilik Al-Qawa’id Ash-Shughra dan Al-Qawa’id Al-Kubra.

• Al-Imam Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Allamah Al-Qurthubi (meninggal tahun 671 H.), pemilik Tafsirul Jami’ li Ahkamil Qur`an, tafsirnya menyebar kemana-mana, dalam tafsirnya ia menyebutkan seluruh madzhab salaf, Ad-Dawudi berkata tentang Al-Qurthubi dalam Ath-Thabaqat, “Tafsir Al-Qurthubi termasuk tafsir paling agung dan paling besar manfaatnya.”

• Al-Imam Al-Hafizh Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi Muhyiddin (meninggal tahun 676 H.), pemilik karya-karya bermanfaat yang ditakdirkan diterima di bumi, seperti Riyadhush Shalihin, Al-Adzkar, Syarh Shahih Muslim, dan lainnya.

• Al-Imam Al-Hafizh Al-Mufassir Abu Fida` Ismail bin Katsir (meninggal tahun 774 H.), pemilik At-Tafsir Al-Azhim, Al-Bidayah wan Nihayah, dan lainnya, dinukil darinya bahwa ia secara tegas menyatakan dirinya orang Asy’ari, seperti disebutkan dalam Ad-Durar Al-Kaminah (I/58) dan Ad-Daris fi Tarikhil Madaris, An-Nu’aimi (II/89), ditambah lagi ia memimpin para syaikh Darul Hadits Al-Asyrafiyyah yang sebelumnya hanya dipimpin Asy’ari, selain itu di dalam tafsirnya terdapat tanzih, taqdis (Me maha sucikan Allah dari persamaan dengan makhluk), dan bantahan keras terhadap siapa yang menyatakan zhahir ayat-ayat mutasyabih, seperti tertera dalam penafsiran firman Allah, “Lalu ia bersemayam di atas Arsy.” (Tafsir Ibnu Katsir, II/220), dan masih banyak lagi contoh-contoh nyata dan jelas yang menunjukkan bahwa ia termasuk ahlussunnah Asya’irah.

• Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (meninggal tahun 852 H.), Amirul Mukminin di bidang hadits, pemilik Fathul Bary, syarah kitab Shahih Muslim terbesar, pemilik Tahdzibut Tahdzib, Nukhbatul Fikr dan syarahnya, Nuzhatun Nazhar.

• Al-Imam Al-Hafizh Syamsuddin As-Sakhawi (meninggal tahun 902 H.).

• Al-Imam Al-Hafizh Al-Mufassir Jalaluddin As-Suyuthi (meninggal tahun 911 H.), pemilik Ad-Durr Al-Mantsur fit Tafsir bil Ma`tsur dan Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur`an.

• Al-Imam Al-Mufassir Abu Tsana` Syihabuddin Al-Alusi Al-Husaini Al-Hasani (meninggal tahun 1270 H.), penutup para ahli tafsir dan ahli hadits terbaik seperti yang dikatakan syaikh Bahjatul Baithar. Ia juga berkata tentang Al-Alusi (Hulyatul Basyar, III/1450), “Ia salah satu yang terbaik di antara segelintir orang di dunia, menuturkan kebenaran, tidak pernah menyimpang dari kejujuran, berpegang teguh pada sunnah, dan menjauhi fitnah.”

Lalu apa jasa salafi wahabi pada umat ini selain mengkafirkan umat Islam, pengeboman orang yang tak berdosa, membongkar kubur pala Wali, dan mengklaim pemegang otoritas tunggal untuk memasukkan orang kedalam neraka.

Rabu, 25 November 2015

BAGAIMANA NABI SAW BERJABAT TANGAN ( M.A.V~313 )

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, "Bahwa tidak pernah tangan Rasulullah SAW dipegang oleh seseorang lantas beliau melepaskan tangan beliau sampai orang itu sendiri yang melepaskannya. Kedua lutut beliau – atau lutut beliau – pun tidak pernah terlihat lebih menonjol dari lutut orang yang duduk dengan beliau. Dan tidaklah seseorang berjabat tangan dengan beliau melainkan beliau menghadapkan wajah beliau kepada orang itu dengan sepenuhnya, kemudian beliau tidak akan memalingkan wajah beliau darinya sampai orang itu selesai berbicara."
H.R ath-Thabari dan al-Bazzar.

Sering terjadi dimasyarakat kita, jika mereka berjabat tangan mereka tidak saling menghadap, terkadang pelakunya adalah para agamawan. Seperti guru terhadap santri, mursyid terhadap jama'ahnya, bos terhadap pegawainya dll.

Kalau mereka merasa bahwa dirinya lebih mulia dari orang yang ingin berjabat tangan dengannya hendaknya ia mengingat bahwa kemulian Rasulullah SAW tidak bisa dibandingkan dgn kemuliaan manusia manapun.
Namun Nabi tetap menjaga akhlaq yang baik tidak pernah menyinggung perasaan siapa pun.

Tataplah wajah orang yang berjabat tangan pada kita, belajarlah tersenyum untuk menyenangkan hati Rasulullah karena kita menghargai umat-nya.

صلوا على رسول الله

Kamis, 12 November 2015

MENGKAFIRKAN MUSLIM DIPICU OLEH SIFAT SOMBONG, KAGUM PADA DIRI SENDIRI & MEREMEHKAN ORANG LAIN (M.A.V~313)

Dinukil dari Kitab at-Tahdzir karya Al-Muhaddits al-'Allamah as-Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki R.A.

Di antara fenomena mencolok yang menjadi ciri khas kalangan yang suka mengkafirkan kaum muslimin, atau dengan istilah lain; mereka yang terburu-buru mengkafirkan siapapun yang tidak sependapat atau menentang pandangan dan keyakinan mereka adalah sifat kagum pada diri dan amalan sendiri.

Sifat ini merupakan sifat awal makhluk paling keji yang dilarang dan diingatkan oleh Islam. Itulah sifat sombong yang menjadi ciri khas makhluk kafir pertama (Iblis), karena menganggap diri lebih baik dari Adam dan kagum dengan amalan sendiri. Iblis memiliki andil besar dan usaha keras tiada henti dalam sifat ini.

Imam Qurthubi menjelaskan, pada mulanya Iblis berada di surga. Ia adalah pemimpin malaikat-malaikat di langit paling bawah. Iblis berkuasa di langit ini, dan juga di bumi. Iblis sangat rajin dan banyak ilmu. Ia memimpin semua yang ada di antara langit dan bumi. Inilah yang pada akhirnya membuat Iblis menganggap dirinya mulia dan terhormat, hingga pada akhirnya menyeret dalam kekafiran. Iblis akhirnya durhaka kepada Allah Swt., hingga Allah Swt. merubahnya menjadi setan yang terkutuk.

Dosa yang disebabkan sifat sombong sulit diharapkan bisa bertaubat, sementara dosa yang disebabkan kemaksiatan bisa diharapkan bertaubat. Dosa Adam adalah kemaksiatan, sementara dosa Iblis adalah kesombongan.

Sifat kagum pada diri sendiri inilah yang menyeret Iblis beranggapan lalu mengucapkan, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api.” (QS. Al-A’râf [7]: 12) Menyeret Iblis menghina dan merendahkan Adam, Iblis berkata, “Sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’râf [7]: 12)

Iblis pun bersikap tinggi hati dan termasuk golongan kafir, seperti yang Allah Swt. sampaikan, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam.’ Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 34)

BERSATU DENGAN WAHABI APA YANG AKAN TERJADI ?!!! ( M.A.V 313 )

Bersatu Dengan Wahabi Apa Yang Akan Terjadi ?!!!

Mari Kita Coba Rerungkan Bersama..
Ajakan Bersatu Oleh Wahabi Melawan Syi'ah Itu Apakah Menyelamatkan Islam Dan Itu Artinya Menguntungkan  Aswaja !!

Wahabi Salafi Ekstrim Ini Menilai Asy'ari Shufi
Adalah Adalah Kafir Seperti Syi'ah.
Oleh Karenanya Mereka Menuduh Siapapun
Yg Melawan Salafi Wahabi Adalah Syi'ah.

ASAWAJA Adalah Musuh Yg Tertunda Bagi Salafi Wahabi.
Para Habaib Dan Kyai Yg Getol Melawan Syi'ah Tidak Akan Di-Anggap Benar Jika Tidak Menjadi Salafi Wahabi..

Bukti Kitab Karya Wahabi, Betapa Mereka Memvonis Asy'ari (Aswaja )  Sama Dengan Syi'ah.

Semoga Kita Bisa Lebih Berhati - Hati Jangan Sampai Kita Dimanfaatkan Sekarang Dan Ditikam Dikemudian Hari.


Berkorbanlah Untuk Ahlussunnah Wal Jamaa’ah
Sebelum Kalian Menjadi Korban
Musuh – Musuh Ahlussunnah Wal Jamaa’ah…!!!

Rabu, 11 November 2015

BENARKAH MENJADI AHLUSUNNAH HARUS BERFAHAM EKSTREM WAHABI ??? !!!! (Abu Hasan~313)

Abdul Wahhab Bin AbdurRahman Bin Rustum tahun 211.H dialah pemimpin wahabi menurut salafi wahabi, jadi menuduh pengikut Muh bin Abdul Wahhab orang Najd itu sebagai wahabi adalah salah sasaran. 

Penamaan wahabi saja tidak benar karena yang benar seharusnya Muhammadi bukan wahabi, karena menisbahkan pada ayah-nya AbdulWahhab. Begitu kurang lebih argument wahabi untuk melepas diri dari label wahabi, mereka punya banyak nama lain yaitu salafi, ahlul hadits, anshor tauhid dan Ahlusunnah itu nama yang mereka inginkan agar faham ini terlihat menarik.

Dalam bahasa Arab penamaan wahabi utk pengikut Muh bin AbdulWahhab itu sah dan benar, menisbahkan seorang pada ayah dan kakek itu dibenarkan dlm bahasa arab, sebagai contoh pengikut Muhammad bin Idris as-Syafi'i adalah Syafi'i. Pengikut Imam Ahmad Bin Hanbal adalah Hanbali dst.

Jadi jangan sewot dong kalau pengikut Muh bin AbdulWahhab disebut wahabi?
Benarkah ulama Ahlusunnah tidak menamakan mereka sebagai wahabi ? Dan Syi'ah lah yang memberi nama itu?

Jawab : Para ulama Aswaja seperti Imam Ahmad Zaini Dahlan yang tinggal di Makkah, Imam Shawi, Imam Ibnu Abidin, Imam al-Kautsari, Imam Muhammad Zaki Ibrahim dll mereka 100% Ahlusunnah wal Jama'ah Asya'ri mereka bukan syi'ah bahkan mereka juga melawan syi'ah dalam banyak karya tulisnya.
Nah mereka pula yang menyebut istilah wahabi terhadap pengikut Muh bin AbdulWahhab an-Najdi. 

Menuduh yg me-labelkan wahabi adalah syi'ah itu cara wahabi agar dapat menuduh semua yang menentang wahabi adalah syi'ah. Maka mereka membentuk opini di masyarakat bahwa para habaib dan kyai yang menentang wahabi adalah syi'ah, agar mereka leluasa menyerang dan mendapat dukungan. 

Bohong besar jika wahabi menganggap kita aswaja adalah Ahlusunnah! Jangankan para habaib dan kyai, sekelas Iman al-muhaddits al-hafidz Nawawi dan Ibnu Hajar pun mereka ragukan bahwa mereka Ahlusunnah. 

Silahkan baca karya Pak Ustaimin yang berjudul (لقاء الباب المفتوح)
Liqo' al-bab al-maftuh hal 42/43," bahwa Nawawi dan Ibnu Hajar Ahlusunnah dalam masalah fiqih saja, adapun dari sisi bid'ah (terkait asma wa shifat) maka mereka berdua bukan Ahlusunnah secara mutlak. 
Dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini dari para syekh wahabi salafi.

Lantas siapa Ahlusunnah, kalau bukan para Imam aswaja? 
Setelah nama salaf mereka rampas dari aswaja, sekarang mereka ambil paksa nama Ahlusunnah, ingat Ahlusunnah yang wahabi salafi maksud bukan Ahlusunnah yang diikuti oleh para Imam Aswaja seperti Imam Nawawi dan Ibnu Hajar as-Shuyuthi,
Imam Baihaqi dan Imam Subki. Namun Ahlusunnah yang sesuai selera wahabi salafi. 

Dan akhirnya untuk mengaku Islam pun kita harus lapor pada wahabi salafi, karena mereka lah yang memiliki legalisir pengesahan Islam dan Iman seseorang.
Coba baca kitab (نواقض الاسلام )nawaqidh al-islam, hal2 yang membatalkan Islam seseorang. Serta Kasyfu asy-Syubuhat karya Muh bin AbdulWahhab, dengan buku panduan ini disimpulkan, tidak ada seoarang muslim di muka bumi ini kecuali wahabi salafi. Tak ada yang berhak masuk surga kecuali wahabi salafi.