Muh bin AbdudulWahhab mengatakan dalam bukunya kasyfu asy-syubuhat;
هؤلاء الآيات نزلت فيمن يعبد الأصنام ! كيف تجعلون الصالحين مثل الأصنام ، أم كيف تجعلون الأنبياء أصناما فجاوبه بما تقدم . فإنه إذا أقر أن الكفار يشهدون بالربوبية كلها لله ، وأنهم ما أرادوا ممن قصدوا إلا الشفاعة ، ولكن إذا أراد أن يفرق بين فعله وفعلهم بما ذكر فاذكر له أن الكفار منهم من يدعو الأصنام ، ومنهم من يدعو الأولياء
“Jika ia berkata, ‘Ayat ini turun berkenaan dengan orang yang menyembah berhala. Bagaimana kalian menyamakan orang-orang shalih seperti berhala, atau bagaimana kalian menjadikan para nabi sebagai patung?’
jawaban atas pernyataan ini sama seperti jawaban sebelumnya, yaitu jika ia mengakui bahwa orang-orang musyrik mengakui rububiyah semuanya milik Allah SWT., dan mereka hanya bermaksud memohon syafaat dari tuhan-tuhan yang mereka sembah, namun jika yang mau membedakan antara perbuatan mereka dengan perbuatan Allah SWT. seperti yang ia sebutkan, maka sampaikan padanya bahwa orang-orang kafir di antara mereka juga menyeru orang-orang shalih dan berhala, ada juga yang menyeru para wali’.”
Intinya adalah pendiri wahabi ini tetap menganggap ayat ini bisa diterapkan untuk kaum muslimin.
Jawaban;
Pertama; Muhammad bin Abdul Wahhab keliru terkait karena meyakini orang-orang kafir mengesakan perbuatan-perbuatan Allah SWT. Orang kafir bertauhid.
Kedua; orang-orang kafir tidak hanya sebatas meminta syafaat saja, tapi juga meyakini berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan dan sekutu-sekutu Allah SWT., karena itu mereka menyembahnya. Jika kita cermati ayat-ayat yang turun berkenaan dengan kaum musyrikin, seperti firman Allah SWT. yang menafikan syafaat tuhan-tuhan palsu mereka,
لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا
“Mereka tidak berhak mendapat syafa'at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam [19]: 87)
Menyamakan keyakinan muslimin yang betawassul dgn keyakinan orang musyrik sangat lah rancu dan sangat memaksakan diri.
Mana ada muslim yang paling awam pun meyakini bahwa para wali yg bisa memberi syafaat adalah wali yang sudah memiliki perjanjian dengan Allah ???!!!
Stop merajut halusinasi yang batil seperti itu, toh berbaik sangka jauh lebih besar pahalanya daripada mengkhawatirkan iman kaum muslimin.
Tidak ada anjuran agar kita menjadi Khawarij yang selalu memakai ayat yang Allah terunkan untuk orang kafir dan musyrik lalu dipraktekkan pada kaum muslimin.
Silahkan baca hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari tentang khawarij, agar kalian tahu serupa dengan siapa sebenarnya kalian ini?
Sabtu, 31 Oktober 2015
LARANGAN BAGI SALAFI WAHABI BERJAMA'AH DI BELAKANG AHLUSUNNAH ( M.A.V~313 )
Syaikh Shalih Fauzan menjelaskan, syarat imam adalah muslim, istiqamah
dalam agama dan akhlak, harus menjadi teladan baik dalam berpegang teguh
dengan sunnah, jauh dari bid’ah, meninggalkan kesyirikan dan semua
media kesyirikan.
Orang yang menjadikan orang-orang shalih, para wali atau orang-orang yang sudah mati menjadi perantara seperti yang lazim dilakukan oleh para penyembah kuburan saat ini, mereka mengira hal itu boleh dilakukan, tidak boleh hukumnya shalat diimami orang seperti ini, karena akidahnya rusak. Jika yang bersangkutan bertawasul pada orang-orang shalih dengan arti memohon berbagai keperluan kepada mereka, berdoa agar semua musibah lenyap, menyerukan nama-nama mereka dan memohon pertolongan kepada mereka, berarti ia orang musyrik syirik akbar yang mengeluarkan dari agama, ia bukan muslim, terlebih untuk dijadikan imam di masjid. (Sumber; cuplikan dari fatwa-fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, I/90)
Dengan doktrin semacam ini, mereka sangat pe-de dan semangat untuk menjadi imam di masjid-masjid Aswaja, sekalipun dibelakang mereka banyak orang yang lebih alim.
Begitu indah tawadhu' gaya wahabi kan?
Perhatikan jika shalat di tempat umum begitu semangat para wahabi pemula untuk menjadi Imam.
Bagaimana pula dengan para masyaikh dan asatidz mereka??
Merekalah pemegang kunci neraka dan mereka lah yang mempunyai hak mutlak untuk memasukkan siapa pun dalam neraka mereka.
Orang yang menjadikan orang-orang shalih, para wali atau orang-orang yang sudah mati menjadi perantara seperti yang lazim dilakukan oleh para penyembah kuburan saat ini, mereka mengira hal itu boleh dilakukan, tidak boleh hukumnya shalat diimami orang seperti ini, karena akidahnya rusak. Jika yang bersangkutan bertawasul pada orang-orang shalih dengan arti memohon berbagai keperluan kepada mereka, berdoa agar semua musibah lenyap, menyerukan nama-nama mereka dan memohon pertolongan kepada mereka, berarti ia orang musyrik syirik akbar yang mengeluarkan dari agama, ia bukan muslim, terlebih untuk dijadikan imam di masjid. (Sumber; cuplikan dari fatwa-fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, I/90)
Dengan doktrin semacam ini, mereka sangat pe-de dan semangat untuk menjadi imam di masjid-masjid Aswaja, sekalipun dibelakang mereka banyak orang yang lebih alim.
Begitu indah tawadhu' gaya wahabi kan?
Perhatikan jika shalat di tempat umum begitu semangat para wahabi pemula untuk menjadi Imam.
Bagaimana pula dengan para masyaikh dan asatidz mereka??
Merekalah pemegang kunci neraka dan mereka lah yang mempunyai hak mutlak untuk memasukkan siapa pun dalam neraka mereka.
Rabu, 28 Oktober 2015
PERBEDAAN AKHLAK ALQURAN DAN ETIKA AWAM ( M.A.V~313 )
Bagaimana Rasulullah SAW tidak menjadi sosok yang memiliki akhlak
yang luhur sementara pada diri beliau telah tertanam akhlak Al-Quran
Al-Azhim! Sebagaimana yang diungkap dalam hadis yang diriwayatkan dari
Aisyah RA bahwa ia ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW? Ia menjawab,
"Akhlak beliau Al-Quran; beliau marah karena kemarahannya, dan beliau
ridha karena keridhaannya."
Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud.
Ibnu
Abi Syaibah meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa ia ditanya tentang akhlak
Rasulullah SAW? Ia menjawab, "Sosok manusia yang paling baik akhlaknya.
Akhlak beliau adalah Al-Quran; beliau ridha karena keridhaannya dan
beliau marah karena kemarahannya. Beliau bukanlah orang yang keji bukan
pula orang yang berlaku nista, beliau bukan orang yang suka
berteriak-teriak di pasar, dan tidak membalas keburukan dengan
keburukan, akan tetapi memaafkan dan memaklumi."
Kemudian
Aisyah berkata; bacalah "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman."
(Al-Mu`minuun: 1) Sampai sepuluh ayat. Orang yang bertanya itu pun
membacanya. Aisyah berkata, "Demikianlah akhlak beliau SAW."
Diriwayatkan
dari Aisyah RA bahwa ia mengatakan; tidak ada seorang pun yang lebih
baik akhlaknya dibanding Rasulullah SAW. Tidaklah seorang sahabatnya
tidak pula keluarganya memanggil beliau melainkan beliau mengucapkan
labbaik. Maka dari itu Allah SWT menurunkan ayat, "Dan sesungguhnya
engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (Al-Qalam: 4)
Diriwayatkan
dari Umar bin Al-Khaththab RA bahwa seseorang memanggil Nabi SAW tiga
kali, setiap panggilannya beliau balas dengan ucapan labbaik labbaik.
الصلاة والسلام عليك يا سيدي يا رسول اللّٰه..
Kesalahan
sebagian orang menganggap ketegasan hukum alquran sebagai sesuatu yang
bertentangan dengan etika, keras, kejam dan tidak relevant seperti yang
sering kita dengar dari penulis Islam Liberal (LIAR TANPA ATURAN).
sehingga mereka menafsirkan makna rahmatan lil alamin seenaknya,
disesuaikan dengan kemauannya.
Sejatinya
akhlak yang terpuji itu adalah yang tidak melanggar norma alquran dan
sunnah. Ketundukan pada ajaran ilahi itulah intisari akhkak, bukan
menggurui Allah dan Rasulnya, kemudian mengambil pendapat pemikir barat
yang sudah usang lalu mengklaim bahwa itu adalah hasil pemikirannya.
Sehalus
dan sesantun apapun bahasa seseorang, jika dia menolak hukum alquran
dan sabda Nabi SAW artinya orang ini tidak berakhlak menurut kaca-mata
Islam. Meskipun dianggap santun menurut orang awam.
KELEMBUTAN & KEMUDAHAN BAGIAN DARI SPIRIT ISLAM (M.A.V~313)
Disebutkan dalam hadits muttafaq 'alaih, dari Aisyah ra., dari Nabi
saw, “Sesungguhnya Allah Maha Lembut, menyukai kelembutan dalam segala
persoalan.”
Muslim meriwayatkan dalam kitab
Shahihnya dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata, “Aku mendengar
Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa terhalang dari kelembutan, ia terhalang
dari (seluruh kebaikan)’.”
Kelembutan yang
tertera dalam dua hadits ini bersifat umum dan menyeluruh, mencakup
kelembutan dalam bertutur kata, bertindak, memahami sesuatu, memahamkan
orang lain, dan lainnya. Inilah yang dimaksud sabda Nabi saw, “Aku
diutus dengan (membawa) agama murah hati dan lurus,” atau seperti yang
beliau sabdakan.
Seperti itu juga hadits
Al-Bukhari dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Seorang badui kencing di
masjid, lalu orang-orang menghampirinya untuk memukulnya. Nabi saw
kemudian berkata, ‘Biarkan dia! Tuangkan satu ember atau satu gayung air
di atas kencingnya, karena kalian diutus untuk mempermudah, dan kalian
tidak diutus untuk mempersulit’.”
Karena itulah
disebutkan dalam hadits muttafaq 'alaih, dari Aisyah ra., “Tidaklah
Rasulullah saw diberi pilihan antara dua persoalan melainkan beliau
memilih yang paling mudah di antara keduanya selama bukan dosa.”
Berangkat
dari hadits ini, rahasia anjuran yang tertera dalam riwayat At-Tirmidzi
dan Ibnu Mas’ud dari Nabi saw berikut dapat dipahami; beliau bersabda,
“Maukah aku beritahukan kepada kalian siapa yang neraka diharamkan
baginya?! (Neraka) diharamkan bagi setiap orang yang dekat, lemah
lembut, dan ramah’.”
MENGAPA SI ALIM DISESATKAN? ( M.A.V~313 )
Jika seorang tidak mengetahui arah jalan tujuan maka orang tsb
tersesat, dan itu wajar karena memang dia tidak tahu arah yang benar.
Namun jika seorang tersesat padahal dia mengerti arah tujuan dan bahkan
sangat mengerti maka itu aneh.
Seorang kyai
terkenal yang berbicara sembarangan tentang sunnah Rasulullah SAW,
melecehkan sunnah berjenggot, mengatakan merapikan shaf shalat itu adat
arab dll.
Sepertinya orang semacam ini mustahil tidak tahu ke-sunnahan merapikan shaf dalam shalat.
Jika dia seorang santri saja dia akan tahu dari kitab-kitab fiqih yang paling dasar.
Jika ucapan ceroboh seperti ini keluar dari professor doktor kyai haji pasti ada sesuatu yang harus kita ambil pelajaran.
Allah SWT berfirman dalam alquran,"
(مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ)
[Surat Al-Araf 186]
Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk.
Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
Perhatikan ayat ini baik-baik jika Allah sesatkan, nah disini kita mengerti bahwa ilmu dan segala gelar tidak berfungsi lagi.
Bagaimana
seorang professor menjadi bodoh dan menghinakan dirinya dengan mulutnya
sendiri. Bagaimana pula teman dan pengikutnya rela dan membiarkan
kesalahan ini padahal mereka para ulama yang sangat mengerti tentang
sunnah.
Demonstrasi kesesatan ini akan
berlangsung selagi Allah tidak memberi hidayah, bahkan untuk berpikir
normal saja dia tidak akan bisa karena kesombongan dan keangkuhan adalah
halangan besar untuk menerima hidayah.
Ibnu
al-Mubarak berkata," Barang siapa meremehkan adab maka Allah akan
memberinya sanksi berupa ketidak mampuannya untuk melakukan sunnah.
Dan siapa yang meremehkan sunnah akan diberi sanksi untuk tidak diberi kemampuan melakukan yang wajib.
Dan yang meremehkan wajib diharamkan baginya ma'rifah Allah.
Dulu
menghina para ulama sufi demi gelar, dan mendukung sekte pembenci
sahabat Nabi, karena adab tidak dipakai maka Allah beri sanksi orang
ini, bukan hanya tidak melakukan sunnah namun sekarang menjadi pelopor
umat agar jauh dari sunnah Rasulullah SAW.
Allah hinakan dan cabut akal sehatnya hingga masalah sunnah yang jelas saja dia tidak tahu.
Semoga
professor doktor Akil Siraj diberi hidayah dan cepat sadar bahwa anda
bukan sesat tapi disesatkan oleh Allah sebagai sanksi dari su'uladab
terhadap ulama salaf.
Tidak ada cara lain kecuali anda
bertobat dan mencabut pernyataan konyol seperti itu agar Allah memberi
hidayah, petunjuk dan bimbingan, sehingga tidak menambah keresahan umat
semakin parah.
وما توفيقي الا بالله
Senin, 26 Oktober 2015
CINTA KELUARGA SUCI ( M.A.V~313 )
Kau terlahir dari manusia tersuci di jagad ini
Fathimah al-batul putri pemimpin para Nabi SAW.
Banyak ayat turun dirumah kalian wahai Ahlulbait nan suci
Anjuran untuk mencintaimu tertulis dalam Alquran dan sabda Nabi SAW.
Sekecil apapun iman seorang, secara naluri tak akan bisa membenci kalian.
Terlalu bengis dan celaka para pembantai Imam Husain
Aroma wangi keringat Rasulullah menempel pada badan cucunya yang sangat di cintai.
Bahkan tak jarang Nabi SAW mencium bibir cucunya tanda cinta kasih yang terbatas.
Allah mengajarkan pada Rasulullah agar umat ini selalu mencintai alqurba.
Mawaddah pada alqurba ciri keberuntungan, membenci mereka adalah kebinasaan.
Al-Hasan menemui syahadahnya dengan cara diracun, Al-Husain sang pemberani dibantai dengan cara yang sangat kejam.
Padahal pada tubuh mereka berdua mengalir darah suci baginda Nabi.
Namun kami percaya untuk membuktikan kecintaan kami pada Ahlulbait bukan dengan cara melukai diri dan mencaci.
Apalagi sampai menyeret orang yang tak bersalah hanya karena tidak bisa berfikir adil.
Para salaf kami mempunyai stock kecintaan pada Ahlulbait yang tak akan habis, karena cinta mereka adalah harga mati.
Jika cinta kalian Ahlulbait sirna dari hati itu pertanda bahwa agama dan segala ibadah kalian tidak berarti.
Ahlusunnah adalah para pencinta Rasulullah, Ahlulbait dan Sahabat serta para ulama pewaris Nabi.
Jika Rasulullah melarang kami untuk meratap, melukai badan, merintih, mengingat keburukan seorang agar timbul rasa dendam, maka kami tinggalkan semua itu demi cinta yang benar agar kami bisa dikumpulkan bersama Nabi dan Ahlul Kisa'.
Para syuhada mendapat kemuliaan dari Ar-Rahman Ar-Rahim, mereka hidup senang disisi-Nya SWT, diberi segala keinginan mereka.
Merintih menangis sambil memukul diri adalah perbuatan salah, yang dilarang oleh Imam Husain dalam wasiatnya!!
Memilih ritual aneh semacam itu bukan pilihan kami, panutan kami para Ahlulbait, dzurriyah, sahabat, tabi'in dan imam empat madzhab selalu menjauhkan diri dari pelanggaran wasiat agama.
Hanya Allah lah maha tahu bagaimana cinta kami pada Ahlulbait dan syuhada karbala.
Alhamdulillah Allah jauhkan kita dari perbuatan Rafidhi yang seumur hidupnya hanya untuk memupuk rasa benci merintih dan tidak percaya atas takdir ilahi.
Juga bukan Nashibi yang selalu tersakiti jika melihat kecintaan umat pada keluarga Nabi suci.
Bergaya bodoh jika membaca ayat dan hadits tentang keutamaan Ahlulbait, mereka terhalang keberkahan, bahkan mengharamkan diri mereka untuk mencintai dan dicintai oleh manusia-manusia mulia, dengan memilih pendapatnya dibanding pendapat Ahlulbait, tersiksa dalam suu'dhan, memvonis rafidhi pagi pencinta.
Ya Allah bimbing kami dalam cinta yang Kau ridhoi jauhkan kami dari benci yang menjadikan-Mu murka, tanamkan rasa cinta yang mendalam pada Sayyidina Muhammad, Ahlulbait dan para sahabat dihati kami dan keluarga kami..
اللهم انا نسألك بِجَاهِهِم لديْك اَنْ تَجْزِل لنا العَطَايا والمَواهِب و ان تَصرِف عنا جميعَ البلايا والمصائب وان تُلحِقنا بهم يا ربنا يا الله في اعْلَى المَراتِب
Fathimah al-batul putri pemimpin para Nabi SAW.
Banyak ayat turun dirumah kalian wahai Ahlulbait nan suci
Anjuran untuk mencintaimu tertulis dalam Alquran dan sabda Nabi SAW.
Sekecil apapun iman seorang, secara naluri tak akan bisa membenci kalian.
Terlalu bengis dan celaka para pembantai Imam Husain
Aroma wangi keringat Rasulullah menempel pada badan cucunya yang sangat di cintai.
Bahkan tak jarang Nabi SAW mencium bibir cucunya tanda cinta kasih yang terbatas.
Allah mengajarkan pada Rasulullah agar umat ini selalu mencintai alqurba.
Mawaddah pada alqurba ciri keberuntungan, membenci mereka adalah kebinasaan.
Al-Hasan menemui syahadahnya dengan cara diracun, Al-Husain sang pemberani dibantai dengan cara yang sangat kejam.
Padahal pada tubuh mereka berdua mengalir darah suci baginda Nabi.
Namun kami percaya untuk membuktikan kecintaan kami pada Ahlulbait bukan dengan cara melukai diri dan mencaci.
Apalagi sampai menyeret orang yang tak bersalah hanya karena tidak bisa berfikir adil.
Para salaf kami mempunyai stock kecintaan pada Ahlulbait yang tak akan habis, karena cinta mereka adalah harga mati.
Jika cinta kalian Ahlulbait sirna dari hati itu pertanda bahwa agama dan segala ibadah kalian tidak berarti.
Ahlusunnah adalah para pencinta Rasulullah, Ahlulbait dan Sahabat serta para ulama pewaris Nabi.
Jika Rasulullah melarang kami untuk meratap, melukai badan, merintih, mengingat keburukan seorang agar timbul rasa dendam, maka kami tinggalkan semua itu demi cinta yang benar agar kami bisa dikumpulkan bersama Nabi dan Ahlul Kisa'.
Para syuhada mendapat kemuliaan dari Ar-Rahman Ar-Rahim, mereka hidup senang disisi-Nya SWT, diberi segala keinginan mereka.
Merintih menangis sambil memukul diri adalah perbuatan salah, yang dilarang oleh Imam Husain dalam wasiatnya!!
Memilih ritual aneh semacam itu bukan pilihan kami, panutan kami para Ahlulbait, dzurriyah, sahabat, tabi'in dan imam empat madzhab selalu menjauhkan diri dari pelanggaran wasiat agama.
Hanya Allah lah maha tahu bagaimana cinta kami pada Ahlulbait dan syuhada karbala.
Alhamdulillah Allah jauhkan kita dari perbuatan Rafidhi yang seumur hidupnya hanya untuk memupuk rasa benci merintih dan tidak percaya atas takdir ilahi.
Juga bukan Nashibi yang selalu tersakiti jika melihat kecintaan umat pada keluarga Nabi suci.
Bergaya bodoh jika membaca ayat dan hadits tentang keutamaan Ahlulbait, mereka terhalang keberkahan, bahkan mengharamkan diri mereka untuk mencintai dan dicintai oleh manusia-manusia mulia, dengan memilih pendapatnya dibanding pendapat Ahlulbait, tersiksa dalam suu'dhan, memvonis rafidhi pagi pencinta.
Ya Allah bimbing kami dalam cinta yang Kau ridhoi jauhkan kami dari benci yang menjadikan-Mu murka, tanamkan rasa cinta yang mendalam pada Sayyidina Muhammad, Ahlulbait dan para sahabat dihati kami dan keluarga kami..
اللهم انا نسألك بِجَاهِهِم لديْك اَنْ تَجْزِل لنا العَطَايا والمَواهِب و ان تَصرِف عنا جميعَ البلايا والمصائب وان تُلحِقنا بهم يا ربنا يا الله في اعْلَى المَراتِب
WASIAT IMAM HUSAIN RA (M.A.V~313)
Imam Husain RA berkata kepada saudarinya, Zainab di Karbala, seperti
yang dinukil pemilik Muntaha Al-Âmâl dengan bahasa Persia kemudian
diterjemahkan ke bahasa Arab,
“Saudariku, aku bersumpah atas nama Allah padamu, jagalah sumpahku ini; saat aku terbunuh nanti, jangan merobek kerah, jangan mencakar wajah dengan jari-jarimu, jangan menyebut-nyebut celaka dan binasa atas kematian syahidku.”
Abu Ja’far Al-Qumi meriwayatkan, Amirul Mukminin Ali ra. berkata seraya mengajarkan kepada pengikutnya,
“Jangan mengenakan pakaian hitam, karena itu adalah pakaian Fir’aun.”
(Padahal hitam pakaian kebanggaan syiah)
Disebutkan dalam Furû’ Al-Kâfi karya Al-Kulaini, Nabi SAW berwasiat kepada Fathimah ra., “Saat aku meninggal nanti, jangan mencakar wajah, jangan kau geraikan satu helai rambut pun padaku, jangan menyebut-nyebut celaka, dan jangan membiarkan satu wanita pun meratapiku’.”
Salah seorang tokoh Syi’ah, Muhammad bin Husain bin Babawaih Al-Qummi yang mereka juluki ash-Shaduq, berkata, “Di antara sabda Rasulullah SAW yang tiada terkira adalah, ‘Meratap adalah perbuatan jahiliyah.”
Seperti yang juga diriwayatkan oleh ulama Syi’ah; Al-Majlisi, An-Nuri dan Al-Barujardi dari SAW, beliau bersabda, “Dua suara yang dilaknat dan dibenci Allah; teriakan saat tertimpa musibah dan nyanyian saat mendapat nikmat.”
Pertanyaan yang perlu disampaikan setelah mengetahui semua riwayat di atas;
Kenapa Syi’ah menyalahi kebenaran yang di sebutkan di sana?
Siapa gerangan yang mereka percaya; Rasulullah dan ahlul bait,
ataukah para Mullah?!
“Saudariku, aku bersumpah atas nama Allah padamu, jagalah sumpahku ini; saat aku terbunuh nanti, jangan merobek kerah, jangan mencakar wajah dengan jari-jarimu, jangan menyebut-nyebut celaka dan binasa atas kematian syahidku.”
Abu Ja’far Al-Qumi meriwayatkan, Amirul Mukminin Ali ra. berkata seraya mengajarkan kepada pengikutnya,
“Jangan mengenakan pakaian hitam, karena itu adalah pakaian Fir’aun.”
(Padahal hitam pakaian kebanggaan syiah)
Disebutkan dalam Furû’ Al-Kâfi karya Al-Kulaini, Nabi SAW berwasiat kepada Fathimah ra., “Saat aku meninggal nanti, jangan mencakar wajah, jangan kau geraikan satu helai rambut pun padaku, jangan menyebut-nyebut celaka, dan jangan membiarkan satu wanita pun meratapiku’.”
Salah seorang tokoh Syi’ah, Muhammad bin Husain bin Babawaih Al-Qummi yang mereka juluki ash-Shaduq, berkata, “Di antara sabda Rasulullah SAW yang tiada terkira adalah, ‘Meratap adalah perbuatan jahiliyah.”
Seperti yang juga diriwayatkan oleh ulama Syi’ah; Al-Majlisi, An-Nuri dan Al-Barujardi dari SAW, beliau bersabda, “Dua suara yang dilaknat dan dibenci Allah; teriakan saat tertimpa musibah dan nyanyian saat mendapat nikmat.”
Pertanyaan yang perlu disampaikan setelah mengetahui semua riwayat di atas;
Kenapa Syi’ah menyalahi kebenaran yang di sebutkan di sana?
Siapa gerangan yang mereka percaya; Rasulullah dan ahlul bait,
ataukah para Mullah?!
Langganan:
Postingan (Atom)